Dalam posting ini saya akan mengkaji web usability dari situs http://www.karangasemkab.go.id/.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir Mata Kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK).

Tulisan ini terdiri dari 3 post, dikumpulkan dalam kategori Tugas Akhir IMK.

WEB USABILITY


Menurut Jakob Nielsen, usability adalah atribut kualitas untuk mengukur seberapa mudah suatu antarmuka digunakan. Usability didefiniskan oleh lima komponen kualitas, yaitu:

  1. Learnability: seberapa mudah bagi pengguna untuk melakukan kegiatan (task) utama pada saat mereka pertama kali bertemu antarmuka tersebut?
  2. Efficiency: Setelah pengguna terbiasa dengan antarmuka, seberapa cepat mereka melakukan suatu kegiatan?
  3. Memorability: Saat pengguna kembali menggunakan antarmuka, setelah lama tidak menggunakannya, seberapa mudahkah mereka terbiasa kembali dengan antarmuka tersebut?
  4. Errors: Berapa banyak kesalahan yang dilakukan pengguna, seberapa parah kesalahan tersebut, dan apakah pengguna dapat dengan mudah menangani kesalahan tersebut?
  5. Satisfaction: Seberapa nyamankah pengguna dengan suatu antarmuka?

Selanjutnya, metode yang akan saya gunakan dalam mengkaji usability situs web ni adalah metode Evaluasi Heuristic. Menurut Nielsen (1994), evaluasi heuristik adalah metode yang digunakan untuk menemukan masalah pada desain antarmuka. Evaluasi heuristik melibatkan beberapa evaluator untuk memeriksa antarmuka dan membandingkannya dengan prinsip-prinsip usabilitas (heuristik).

Evaluasi Heuristik ini meliputi 10 aspek, yaitu:

  1. Visibility of system status: Sistem harus dapat menginformasikan kepada pengguna tentang apa yang terjadi pada sistem.
  2. Match between system and the real world: Sistem harus ‘berbicara’ dalam bahasa yang biasa digunakan oleh pengguna. Kata, frasa, dan istilah yang digunakan mengikuti kebiasaan yang ada.
  3. User control and freedom: Pengguna kadang memilih pilihan yang salah dan memerlukan opsi ‘emergency exit’. Pengguna dapat keluar dari keadaan akibat pilihan yang salah tersebut tanpa perlu melewati kegiatan tambahan lainnya.
  4. Consistency and standards: Pengguna tidak harus berpikir apakah kata, situasi, dan aksi yang berbeda ternyata memiliki arti yang sama.
  5. Error prevention: Sistem didesain sehingga mencegah pengguna melakukan kesalahan dalam penggunaan system. Bisa dilakukan dengan menggunakan pilihan konfirmasi.
  6. Recognition rather than recall: Membuat objek, aksi, dan pilihan yang ada visible (jelas).
  7. Flexibility and efficiency of use: Permudah pengguna untuk melakukan kegiatannya dengan lebih cepat.
  8. Aesthetic and minimalist design: Dialog seharusnya tidak mengandung informasi yang tidak relevan atau tidak terlalu diperlukan.
  9. Help users recognize, diagnose, and recover from errors: Pesan kesalahan harus dijelaskan dalam bahasa yang jelas, menjelaskan masalah dan memberikan solusi.
  10. Help and documentation: Sistem menyediakan bantuan dan dokumentasi yang berisi informasi tentang penggunaan sistem.

Leave a Reply